Siswa SMPIT Al Kautsar Madani melakukan Study Excursie “Jelajah Mangrove” di Ekowisata Mangrove Padang Tak Jemu Nongsa.

Siswa Terjun Langsung Jaga Pesisir Batam Melalui “Jelajah Mangrove”

BATAM – Dalam upaya menumbuhkan karakter peduli lingkungan sejak dini, sebanyak 90 peserta yang terdiri dari 79 siswa dan 11 guru melaksanakan kegiatan Study Excursie di kawasan Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu, Nongsa, pada Senin (27/4/2026).

Kegiatan bertema “Jelajah Mangrove: Sehari Menanam, Selamanya Menjaga Alam” ini fokus pada edukasi ekosistem pesisir dan aksi nyata pelestarian alam di salah satu destinasi wisata terbaik nasional tersebut.


Edukasi dari Sang Ahli

Para peserta mendapatkan bimbingan langsung dari Bapak Gari Dafit Semet, pengelola Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu. Beliau memberikan pemahaman mendalam mengenai peran vital hutan mangrove, terutama dalam:

  • Mencegah Abrasi: Melindungi garis pantai dari pengikisan air laut.

  • Penjaga Ekosistem: Menjadi habitat bagi berbagai biota laut di wilayah Kepulauan Riau.

  • Praktik Langsung: Cara menanam bibit mangrove menggunakan media polybag dengan benar agar dapat tumbuh optimal.

Kronologi Kegiatan

Perjalanan dimulai sejak pagi hari dengan rangkaian aktivitas yang tertata sebagai berikut:

  1. Persiapan Spiritual & Fisik: Dimulai pukul 07.00 WIB dengan Sholat Dhuha berjamaah dan sarapan bersama di sekolah.

  2. Mobilisasi: Perjalanan dari Batu Aji menuju Nongsa memakan waktu sekitar satu jam.

  3. Pembukaan: Setibanya di lokasi, acara dibuka oleh MC, dilanjutkan sambutan Kepala Sekolah, dan penyerahan cenderamata kepada pengelola.

  4. Aksi Tanam: Mengenakan sepatu boots, siswa turun ke area konservasi untuk praktik penanaman bibit mangrove.

  5. Penguatan Teori: Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk mengunci pemahaman yang didapat selama observasi.

  6. Operasi Semut: Sebelum pulang pada pukul 15.00 WIB, seluruh peserta melakukan aksi bersih-bersih area untuk memastikan lokasi tetap asri.


Mengapa Kegiatan Ini Penting?

Pihak sekolah menegaskan bahwa pengalaman langsung (hands-on learning) jauh lebih efektif daripada sekadar teori di kelas. Melalui sentuhan langsung dengan lumpur dan bibit bakau, siswa diharapkan memiliki ikatan emosional dengan alam.

“Kami ingin siswa memahami bahwa menjaga alam bukan sekadar tugas, tapi tanggung jawab berkelanjutan. Memilih Pandang Tak Jemu yang telah diakui Kemenparekraf juga bertujuan agar siswa bangga pada potensi wisata lokal Batam,” ujar perwakilan sekolah.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan 79 siswa yang terlibat dapat menjadi “duta lingkungan” kecil yang membawa perubahan positif bagi kelestarian laut di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top